PUNCTA HARIAN (from Romo Jost Kokoh)

PUNCTA HARIAN
@”PASAR”, (Kanisius, RJK)

Sebuah Potret Dialektika:
“Allah, Alam dan Peng’alam’an akan Allah”

Jose Antonio Lutzenberger, mantan Menteri Lingkungan Brasil, pernah mengatakan “Masyarakat industrial modern bagaikan suatu agama yang fanatik, yang sedang menghancurkan, meracuni, membinasakan seluruh sistem kehidupan di atas planet… Kita bertindak seakan-akan kita adalah generasi terakhir di planet ini. Tanpa perubahan radikal di dalam hati, pikiran, visi, maka bumi ini akan berakhir seperti halnya Venus, hangus dan mati.” 

Sepenggal kisah nostalgia, waktu saya masih getol aktif di Pencinta Alam sebuah sekolah menengah atas di pinggiran Jakarta, saya ikuti banyak kegiatan back to nature: camping/berkemah, caving/menyusuri gua bawah tanah, hiking/mendaki gunung, climbing-rapeling/naik-turun tebing, diving/menyelam di pantai, taman laut dan outward bound sambil melantunkan lagu-lagu pembebasan ala Joan Baez, Bob Dylan pun Iwan Fals bersama rekan muda. 

Dari antara kegiatan tersebut, yang paling kami gandrungi adalah jalan-jalan di gunung atau bukit yang sunyi-indah. Di sana, kami bisa duduk, lalu melihat dan mendengar (lebih daripada apa yang dapat dilihat dan didengar oleh mata dan telinga kami yang biasa). Dengan kata lain, alam adalah liber naturae, yang berarti kami menemukan tanda tangan serta tulisan Allah dalam alam. Atau bahasanya Soe Hok Gie: Gunung adalah tempat belajar, hanya dipuncak gunung, aku merasa bersih’ 

“….Dari puncak gunung Merapi yang tingginya 1959 meter, kita bisa melihat pemandangan yang susah disebutkan dengan kata-kata. Keajaiban alam! Kawah Merapi mengeluarkan asap tak henti-henti, lalu tampak pula gunung-gunung lain, seperti gungung Merbabu, gunung Lawu, dan gunung Sindoro-Sumbing. Hamparan hijau di bawah serta pemandangan kota Magelang dan Boyolali bisa juga dilihat dari sini. dinginnya yang 5 hingga minus 8-an derajat membuat aku merasa seperti di negeri asing entah berantah…..” 

Kiranya memang benar bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman akan penginderaan, memang syarat mutlak dalam mengerti sesuatu dan mengambil sikap, termasuk juga terhadap alam. Dengan pengalaman ketersentuhan lewat alam, hati kita senantiasa berkobar, penuh dengan kerinduan membara. Bukankah ini suatu benih religiositas seseorang terhadap alam? Hati kita kerap harus diperciki oleh sesuatu yang fascinans, harus diberi insentif yang menggugah, agar bisa tumbuh rasa numinus: kagum dan rindu akan suatu alam yang indah. Dari sinilah kita bisa memunculkan kecintaan terhadap alam dan tergerak untuk bergerak bersama mengatasi pelbagai krisis ekologi.

“….Apa yang terjadi jika anda merusak alam? Banyak teori, seperti jika seseorang menusuk tubuh anda dengan pisau sehingga mengirimkan informasi tampungan massa energi yang memaksa mengatakan tubuh anda untuk merasa sakit. Jika ini dilakukan terus-menerus, sudah pasti anda selain bosan dengan perbuatan teman anda dan rasa sakit itu, sehingga anda berusaha memikirkan bagaimana menghentikan perbuatannya. Bisa jadi anda balas menusuk dan marah bukan?

Sama dengan alam kita….
Setelah bertahun-tahun, begitu lamanya perbuatan kita yang mengusiknya, planet bumi menjadi terganggu dan capek. Ia pun mulai kesal dan tidak heran kemudian jika ngambek dan mulai membalsa dengna angin ributnya, gempa bumi, gunung meletus….

Menjaga bumi bisa pula dilakukan dengan menjaga pemikiran kita. Pemikiran positif bisa dimulai dari dalam hati sehingga orang lain akan merasakan dan bumi kita pun akan merasakannya… “ 

Fiat Lux!
@RomoJostKokoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s